Thursday, July 30, 2015

Mantera Lydia Ko di Ricoh Women's British Open

SEPERTI meledakkan kebahagiaan yang membetot-betot hatinya, Lydia Ko tertawa. Keras. Lepas. Nampak seperti membuncah dari sebuah waduk indah yang digumpali dengan semangat.

Pelatih swingnya, David Leadbetter, senang sekali mendengarnya. Ia tahu dalam tawa itu ada esensi kenikmatan dalam permainannya.

Tak diragukan lagi bahwa ada tanggung jawab besar dalam permainan Ko, putri yang tak cuma ingin membahagiakan kedua orang tuanya dengan tampil sebagai pegolf elite di Korea, tapi juga Amerika Serikat. Pancaran kebahagiaan Ko juga sekaligus jadi bahan bakar yang akan menuntunnya terus mengggapai sukses di masa depan.

Tawa itu penting. Tawa itu seolah memupus kalimatnya sebelumnya, di mana ia mengatakan golf sebagai pekerjaan. Tawa itu kini seperti menegaskan, golf bukan lagi pekerjaan, tetapi permainan yang menyenangkan.

Ia mulai memperlihatkan jati dirinya sebagai pegolf yang sangat berbinar sebelum ia terjun ke pro. Dalam turnamen Ricoh Women's British Open di Trump Turnberry, Inggris, pegolf Selandia Baru kelahiran Seoul ini mencetak 6-under 66, Kamis (30/7), atau 1 stroke di bawah Kim Hyo-Joo dari Korea Selatan.

Karena itu, di bibirnya hampir selalu menggantung senyuman. Ini jadi pukulan terbaiknya sepanjang penampilannya di turnamen major. "Saya terus berusaha menggapai kesenangan di sana," kata Ko di ESPN.com.

Kalimat itu serupa mantera. "Menikmati kesenangan itu penting," tambahnya di laman US Women's Open. "Itu yang selalu saya katakan, karena itulah yang terpenting."

Ko membuka turnamen majornya dengan T-12 di US Women's Open.

Bermain di Scottish Ladies Open pekan lalu, Ko menyebut turnamen pro-am itu seperti membuka matanya ketika ia hadir bersama sejumlah selebriti di sini. Namun, momentumnya ia rasakan kini di Turnberry.

Ko menyudahi permainannya dengan T-51 di ANA Inspiration, finis terburuknya sepanjang turnamen major. Di turnamen berikutnya, ia gugur di KPMG PGA Championship. Itu jadi missed cut pertamanya di event LPGA.

Tekanan-tekanan di usia belianya itu kini sepertinya sudah bisa diatasinya. "Tekanan itu kini membuat ia jadi dirinya sendiri," kata Jason Hamilton, kedinya.

Sejauh ini, Ko sudah jadi juara  11 kali di dunia. Namun, sejauh ini, sebagai dirinya sendiri, Ko seperti tak ingin terbebani dengan target mengalahkan Morgan Pressel, sebagai jawara major termuda, meski dua kali hampir bisa melakukannya. Satu di antara di Evian Championship. Satu lagi kemungkinan di British Open yang pekan ini tengah diikutinya.

Pressel jadi jawara major di Kraft Nabiso di usia 18 tahun, 10 bulan, dan 9 hari. Ko berusia 18-3-9, Minggu (2/8), atau di babak akhir British Open.

"Harapannya demikian," kata Leadbetter soal kemungkinan Ko jadi juara major termuda memecahkan rekor Pressel. "Semua orang Selandia Baru ingin segera tahu. Wartawan dan banyak orang selalu bertanya, 'kapan ia jadi juara major-nya yang pertama? Selalu saya ingatkan mereka, Ko baru memulai kariernya. Ia masih perlu banyak belajar. Banyak orang mengira ia serupa roket, padahal ia masih perlu banyak belajar, menemukan sesuatu, menghindari tekanan, dan harapan banyak orang."

Harapan itu juga tentu dimiliki kedua orangtua Ko. Ayahnya, Gil Hong Ko, tak pernah melewatkan pertandingan Ko di Selandia Baru. Jika Ko bertanding di luar negeri, ibunyalah, Tina, yang mendampinginya. Namun, kali ini, Gil Hong juga turut menyertai Ko di Inggris, seperti juga ketika ia ikut di US Women's Open.

Kamis, setelah menyelesaikan babak pertama di Turnberry, Ko kembali ditanya bagaimana ia mengatasi tekanan yang mengatakan, ia jadi pegolf nomor 1 dunia yang belum memiliki gelar major.

Ko tak menyebut usia belianya jadi faktor. "Saya cuma sedang mencoba namun saya tak mau terlalu memikirkannya," kata Ko yang kini berada di posisi 2 di bawah Inbee Park. "Target saya memang ingin mendapatkan gelar major dalam perjalanan karier saya. Namun, saya tak mengatakan itu harus saya rebut sekarang."

Saat ini, untuk bisa mewujudkan impiannya dan impian rakyat Selandia Baru, Ko melakoninya dengan menikmati permainannya. Tak perlu terlalu tegang. Perbanyak senyum. Jika perlu perbanyak tawa. Tugas berat tak selalu bisa dilakoni dengan pendekatan sangat serius.

Top Leaderboard
1 Hyo Joo Kim 65
T2 Lydia Ko 66
T2 Cristie Kerr 66
T4 Kyu Jung Baek 67
T4 So Yeon Ryu 67
T6 Shiho Ohyama 68
T6 Mika Miyazato 68
T6 Florentyna Parker 68
T6 Teresa Lu  68
T6 Katie Burnett 68
T6 Jin Young Ko 68
T6 Suzann Pettersen 68
T6 Azahara Munoz 68
T14 Angela Stanford     69
T14 Minjee Lee 69
T14 Klara Spilkova 69
T14 Amy Yang 69
T14 Beatriz Recari 69
T14 Misuzu Narita 69
T14 Inbee Park 69
T14 Anna Nordqvist 69
T14 Nicole Larsen 69